Sabtu, 01 Maret 2014

Menyampaikannya pada angin




     Lagi-lagi aku harus merasakan mengagumi tanpa dicintai, aku tak pernah meminta untuk mengagumi siapa dan aku tak pernah tau kepada siapa akan ku berikan rasa kagum ini nantinya. Dan ternyata seiring berganti hari ternyata aku mengagumi teman masa putih biru ku yg dulu. Sudah lama rasanya jantung ini tak bergejolak, tapi kenapa ketika kau menyapaku jantung ini berdetak hebat. Padahal itu hanya sebuah sapaan biasa yang mungkin dia anggap tak ada artinya sama sekali. Tapi bagiku sapaan mu mampu membangunkan keinginanku yang telah lama ku pendam yaitu memiliki teman berbagi dikala suka dan duka.
      Wahai teman yang terpisah oleh jarak dan waktu apakah kau menyadari bahwa aku mengagumimu..??
Mungkin kau tak akan pernah tau sebelum aku menyampaikannya, namun hal itu tak akan terjadi karna aku tak memiliki nyali yang besar untuk mengungkapkan hal itu meski dengan alat komunikasi.
      Wahai teman yang ku kagumi, kau bagai hiasan yang berwarna cerah hinggap di bilik gedung yang kusam, kau tampak bersinar diantaranya meski yang lain tak lagi berwarna. Hiasan yang berwarna cerah itu akan terlihat kusam jika terlalu lama terkena debu bahkan bisa menjadi rusak karna debu. Namun warnamu tetap terjaga karna sinarmu selalu terpancar didalam gedung megah itu
      Aku hanya seorang gadis yang menungu seorang pria gagah hadir untuk menghampiri dan membantu menghilangkan rasa sepi yang menderaku selama 4 tahun belakangan ini. Andai saja aku tau perasaanmu kepadaku mungkin aku tak akan terlalu berharap banyak padamu teman.
Dengan apa aku mengatakan hal ini kepadamu, bahwa aku telah mengagumi sejak pertama kali kau menyapaku dan mengetahui bahwa kau tak ada yang memiliki.
Aku sadar mungkin rasa ini terlalu berlebih dan terlalu mengada-ngada bagimu, karna bertemu saja kita belum pernah semenjak kita usai dari masa putih biru dan lanjut pada masa putih abu-abu, tapi percaya atau tidak rasa ini sudah terlanjur tumbuh untukmu wahai teman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar