Lagi-lagi aku harus
merasakan mengagumi tanpa dicintai, aku tak pernah meminta untuk mengagumi
siapa dan aku tak pernah tau kepada siapa akan ku berikan rasa kagum ini
nantinya. Dan ternyata seiring berganti hari ternyata aku mengagumi teman masa putih biru ku
yg dulu. Sudah lama rasanya jantung ini tak bergejolak, tapi kenapa ketika kau
menyapaku jantung ini berdetak hebat. Padahal itu hanya sebuah sapaan biasa
yang mungkin dia anggap tak ada artinya sama sekali. Tapi bagiku sapaan mu mampu
membangunkan keinginanku yang telah lama ku pendam yaitu memiliki teman berbagi
dikala suka dan duka.
Wahai teman yang terpisah oleh jarak dan waktu
apakah kau menyadari bahwa aku mengagumimu..??
Mungkin kau tak akan
pernah tau sebelum aku menyampaikannya, namun hal itu tak akan terjadi karna
aku tak memiliki nyali yang besar untuk mengungkapkan hal itu meski dengan
alat komunikasi.
Wahai teman yang ku
kagumi, kau bagai hiasan yang berwarna cerah hinggap di bilik gedung yang
kusam, kau tampak bersinar diantaranya meski yang lain tak lagi berwarna. Hiasan
yang berwarna cerah itu akan terlihat kusam jika terlalu lama terkena debu
bahkan bisa menjadi rusak karna debu. Namun warnamu tetap terjaga karna sinarmu selalu terpancar didalam gedung megah itu
Aku hanya seorang gadis yang menungu seorang
pria gagah hadir untuk menghampiri dan membantu menghilangkan rasa sepi yang
menderaku selama 4 tahun belakangan ini. Andai saja aku tau perasaanmu
kepadaku mungkin aku tak akan terlalu berharap banyak padamu teman.
Dengan apa aku
mengatakan hal ini kepadamu, bahwa aku telah mengagumi sejak pertama kali kau
menyapaku dan mengetahui bahwa kau tak ada yang memiliki.
Aku sadar mungkin rasa
ini terlalu berlebih dan terlalu mengada-ngada bagimu, karna bertemu saja kita
belum pernah semenjak kita usai dari masa putih biru dan lanjut pada masa putih abu-abu, tapi percaya atau tidak rasa ini
sudah terlanjur tumbuh untukmu wahai teman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar